Selasa, 19 Juli 2016

Si Puan

Sanyup dan redup
Kali itu, keramaian saja yang menertawakan.
Gundah gulana, sang hati pun kosong. Hanya angannya.
Mengenalnya, serta merta. Seperti menunggu setiap detik berganti.

Rindu seperti dendam
kalau saja ada obatnya, mungkin hati akan meredam.
Mencari sang puan, hingga tiba saatnya.

Aku hanya aku, tidak seperti dia.
Bisa ada, tanpa harus tiada.
Apa butuh air mata? Bagai pelanggan yang haus cinta
Berlebihan rasanya..

Lelah rasaku, hasrat seperti mati.
Bagai ribuan pohon yang terbakar oleh si jago merah.
Berkelana lah, engkau Puan.
Bila nanti kau lelah,
Hanya jiwa dan rasa yang menjawabnya

19 July 2016

2 komentar: