Kamis, 21 Juli 2016

Untuk Sang Saka

Secangkir kopi lebih nikmat, dibanding bersenda gurau tentang mimpi & cita.

Semarak namun tak nampak, itu lah mereka.
Baktinya bagai logam mulia.
Tak nampak raut kesedihan.
Hanya bakti dan teladannya, bagai badai yang takkan hilang.

Mesti...
Puluhan tahun, melewati masa.
Puluhan jiwa, menerjang si hina.
Puluhan senjata, melawan grilya.
Kau bilang itu hiburan

Tidak untuk waktu ini.
Ukiran mereka, sepertinya terlupa.
Oleh harta dan tahta.
Puluhan lenyap tak bersisa.

Merdeka, merdeka!
Ayam pun bisa bilasanya berkokok.
Rayuanmu seperti abu,
Seperti terbawa angin yang diselimuti oleh keinginan.

Bila nanti kau harus mati,
Matilah dalam keabadian
Bukan hangus dalam kebodohan, yang membodohkanmu.
Kelak terbayar sudah darah sang saka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar