Kamis, 08 Desember 2016

Melukis blog dengan puisi, setelah sekian lama

Pejuang sosial

Keramaian kali ini, tidak hanya tentang hiruk pikuk ibukota.
Bukan tentang suara sirine mobil yang keras, bukan juga tentang rombongan orang yang lalu lalang.
Melainkan tentang teriakan seorang pria yang dibungkus harapan.
Beradu nasib, menggantungkan diri di tengah kejamnya kota ini.

Terdengar letih hembusan nafas yang lewat melalui rongga pernafasannya.
Satu demi satu, Ia melawati sudut, dan tengah ibukota.
Pengemis? Nampaknya bukan, Pemulung? Nampaknya juga bukan.
Sepertinya pahlawan yang dibekali jiwa, lantas gelar apa yang patut diberikan? Tegasku..

Perihal cita-cita, biarkan gelap yang menjawab dengan terang sinar bulan.

-

Tidak ada harga yang layak, selain upah yang kekal di "kehidupan nantinya".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar